AtensiRakyat.com : Tapteng – Kapolres Tapanuli Tengah, AKBP Wahyu Endrajaya, mengonfirmasi perkembangan penanganan kasus dugaan perkelahian antar siswa SMA Negeri 1 Plus Matauli Pandan, Kabupaten Tapteng, Sumatera Utara.
Kepada Wartawan, Wahyu menyatakan kasus tersebut telah masuk pada tahap pemeriksaan saksi-saksi, yang terlibat dalam perkelahian itu.
“Bukan untuk menangkap, tapi untuk meminta keterangan intensif dari beberapa siswa, dan ada sekitar 14 siswa,” ungkap Wahyu kepada wartawan, di Mapolres Tapteng, Senin (18/8/2025).
Namun, pihaknya saat ini, mengalami kendala sebab korban masih belum dapat dimintai keterangan yang dikarenakan korban masih dalam perawatan, serta satu orang siswa laginya sebagai saksi kunci pada perkara tersebut juga belum dapat dimintai keterangan karena bersangkutan tidak hadir.
Sebelumnya, beredar informasi melalui media sosial terkait peristiwa perkelahian antar siswa SMA Negeri 1 Plus Matauli Pandan. Keluarga korban dari peristiwa ini, mengunggah foto seorang remaja yang diketahui merupakan anak kandung dari pemilik akun Facebook Ericson Maharaja, dalam kondisi luka-luka pada bagian wajah.
Remaja dalam foto yang diunggah tersebut, dikatakan menjadi korban pemukulan oleh sekelompok pria teman sekolahnya. Kemudian para siswa diduga pelaku pengeroyokan disebut merupakan komplotan Genk Nenek, di lingkungan sekolah tersebut.
Terkait hal itu AKBP Wahyu, menjelaskan para siswa diduga pelaku penganiayaan sebagai komplotan genk sekolah.
“Ini bukan pengeroyokan, tapi perkelahian atau penganiayaan terhadap korban inisial S. Anaknya siapa, sudah tahu. Kejadiannya, Selasa 12 Agustus sore, sekitar 15.30 Wib, dan Hari Rabu Tanggal 13 Agustus 2025 sekitar pukul 00.25 orangtua korban membuat laporan,” katanya.
Wahyu mengatakan, dirinya bahkan terlibat langsung dalam penangan perkara perkelahian antarsiswa sekolah unggulan, di wilayah hukum Polres Tapteng.
“Besok paginya, saya sendiri bersama beberapa jajaran langsung ke sekolah (SMAN 1 Plis Pandan-red) untuk menindaklanjuti masalah ini,” sebutnya.
Dia juga mengungkapkan kronologi kasus perkelahian antarsiswa sekolah tersebut yang dipicu karena kesalahpahaman atau diskomunikasi antara kedua siswa hingga berujung cekcok mulut dan sepakat bertemu di tempat kejadian perkara. (Rizki)













