AtensiRakyat.com – Jakarta – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nias Barat menyiapkan Nias Barat Trade Connect 2027–2029, strategi untuk memperkuat rantai perdagangan produk lokal dari tingkat petani dan UMKM hingga pasar antardaerah dan nasional.
Strategi tersebut dipaparkan Bupati Nias Barat, Eliyunus Waruwu, saat bertemu jajaran Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Menurut Eliyunus, tantangan perdagangan Nias Barat tidak hanya berada pada produksi, tetapi juga pada agregasi, standardisasi, pengolahan, logistik dan akses pasar.
“Produk ada, pelaku ada, pasar ada. Yang harus kita perkuat adalah rantai nilai dan koneksi pasarnya,” ujar Eliyunus.
Pemkab Nias Barat berencana memperkuat BUMD Aneka Usaha sebagai aggregator untuk menghimpun produk petani, nelayan, koperasi dan UMKM sehingga mampu memenuhi kebutuhan volume, kontinuitas dan standar pembeli yang lebih besar.
Kelapa, pinang dan pisang menjadi komoditas awal yang akan dipetakan secara lebih rinci. Pemetaan meliputi volume produksi, sentra produksi, kualitas, kontinuitas pasokan, harga produsen dan calon pembeli.
Data tersebut nantinya menjadi dasar pelaksanaan business matching antara BUMD dan pelaku usaha Nias Barat dengan calon pembeli di daerah lain.
“Keberhasilan tidak boleh hanya diukur dari pertemuan atau MoU. Harus sampai terjadi transaksi,” kata Eliyunus.
Selain penguatan komoditas, Pemkab Nias Barat mengusulkan revitalisasi Pasar Mandrehe dan pembangunan Pasar Sitolubanua.
Pasar Mandrehe akan diperkuat sebagai simpul perdagangan lintas kecamatan, sedangkan Pasar Sitolubanua diproyeksikan menjadi pusat perdagangan yang mendukung perkembangan kawasan ibu kota kabupaten.
Transformasi perdagangan juga diarahkan ke pasar digital. Namun, Pemkab menilai UMKM harus lebih dahulu diperkuat dari sisi kualitas produk, kemasan, harga, kontinuitas produksi dan efisiensi logistik.
Lima agenda yang akan ditindaklanjuti meliputi revitalisasi Pasar Mandrehe, pembangunan Pasar Sitolubanua, penguatan distribusi dan logistik, pemasaran digital, serta penyusunan Action Plan Nias Barat Trade Connect 2027–2029 bersama Kementerian Perdagangan.
Pemkab berharap strategi tersebut dapat mendorong produk Nias Barat tidak lagi dominan diperdagangkan sebagai bahan mentah, tetapi menghasilkan nilai tambah, lapangan kerja dan pendapatan yang lebih besar bagi masyarakat. (Sit4)













