Daerah  

Sekretaris Syarikat Islam Kota Medan Imbau Warga Hati-hati Terhadap Dugaan Perundungan di WAG

AtensiRakyat.com : Medan – Sekretaris Syarikat Islam (SI) Kota Medan, Joko, mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial, termasuk WhatsApp Group (WAG), agar tidak menjadi ruang untuk melakukan penghakiman sosial maupun dugaan perundungan terhadap seseorang.

Imbauan tersebut disampaikan Joko menyikapi informasi mengenai seorang perempuan yang sebut saja namanya Reva. Perempuan tersebut diduga menjadi bahan pembicaraan sejumlah pria yang diantaranya ada pria beristri yang merupakan anggota WhatsApp Group bernama “Musholla”, meskipun yang bersangkutan disebut tidak berada di dalam grup tersebut.

Menurut informasi yang diterima, pembahasan di dalam grup antara lain berkaitan dengan kebiasaan Reva yang sesekali memberikan makanan kepada kucing liar di lingkungan kompleks perumahan. Kebiasaan tersebut kemudian dikaitkan oleh sebagian warga dengan keberadaan kucing liar yang dianggap mengganggu, termasuk adanya kotoran kucing maupun kerusakan sejumlah barang milik warga.

Joko menilai, persoalan tersebut seharusnya tidak serta-merta diarahkan kepada seseorang hanya karena yang bersangkutan pernah memberikan makan kepada kucing liar.

“Tidak ada aturan yang melarang seseorang memberikan makan kepada kucing yang lapar. Jangan karena seseorang memberi makan kucing kemudian seluruh persoalan yang berkaitan dengan kucing dibebankan kepadanya,” ujar Joko, pada keterangannya yang diterima oleh AtensiRakyat.com, Rabu (9/9/2026) sore.

Ia juga mengingatkan agar warga tidak mudah mengambil kesimpulan bahwa seseorang merupakan pemilik kucing hanya karena pernah memberikan makanan kepada hewan tersebut.

Menurutnya, keberadaan kucing liar di kawasan permukiman merupakan persoalan yang membutuhkan penyelesaian secara bersama-sama. Jika terdapat kotoran kucing atau barang warga yang rusak akibat cakaran, persoalan tersebut sebaiknya dibicarakan dengan kepala dingin dan dicari solusi bersama, bukan dengan menyindir atau membangun opini negatif terhadap warga tertentu.

BERITA LAINNYA:  Perayaan Natal 2024, Pj Gubernur Sumut Hadiri Open House Kapolda Sumut

WAG ‘Musholla’ Diingatkan Kembali pada Fungsinya

Joko juga mempertanyakan grup WhatsApp yang menggunakan nama “Musholla” justru lebih banyak digunakan untuk membicarakan kehidupan pribadi penghuni rumah tertentu.

“Astaghfirullah kembalikan fungsi WAG dengan nama ‘Musholla’ ke fungsinya, kenapa malah fokus membahas penghuni rumah blok yang notabene dihuni perempuan yang jarang keluar rumah dan sesekali memberi makan kucing liar,” ujarnya.

Menurutnya, grup komunikasi warga seharusnya dapat digunakan untuk membangun komunikasi yang positif, mempererat hubungan antarwarga, menyampaikan informasi lingkungan, serta membahas persoalan bersama secara proporsional.

“Kalau grupnya bernama ‘Musholla’, mari kita kembalikan fungsi komunikasi itu kepada hal-hal yang positif. Jangan sampai ada warga, terlebih seorang perempuan, menjadi sasaran pembicaraan dan penggiringan opini hanya karena persoalan kucing,” katanya.

Ia berharap para anggota keluarga juga saling mengingatkan agar komunikasi di ruang digital tetap dijaga. Menurutnya, percakapan di media sosial bukan berarti bebas dari etika dan tanggung jawab.

“Himbauan kepada para istri dimana saja berada ini jadi masukan agar mengikuti perkembangan percakapan para suami di WAG,” tambahnya.

Persoalan Lama Ikut Menjadi Sorotan

Selain persoalan kucing, muncul pula informasi mengenai penghuni rumah di blok C8 yang sebelumnya pernah menjadi bahan pembicaraan sebagian warga akibat insiden kendaraan yang secara tidak sengaja melindas gagang sekop dan kabel sambungan listrik yang disebut berada di akses jalan pada malam hari.

Barang-barang tersebut diketahui merupakan milik warga yang saat itu sedang melakukan kegiatan karaoke. Karena kondisi malam dan pencahayaan yang disebut minim, kendaraan penghuni rumah C8 diduga tidak sengaja melindas barang-barang tersebut.

Meski kerusakan disebut telah diganti oleh pemilik kendaraan, informasi yang diterima menyebutkan bahwa peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu persoalan yang terus dikaitkan dengan penghuni rumah tersebut.

BERITA LAINNYA:  Perayaan Natal Oikumene Kota Medan 2024 Berlangsung Meriah dan Penuh Suka Cita

Joko menilai, persoalan antarwarga yang pernah terjadi seharusnya tidak dijadikan alasan untuk terus menyindir atau membangun stigma terhadap seseorang.

“Kalau ada persoalan antarwarga, selesaikan secara baik-baik. Jangan masalah yang sudah selesai kemudian terus dibawa ke ruang publik dan dijadikan bahan untuk menyudutkan seseorang,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat semakin bijak dalam menggunakan WhatsApp Group maupun media sosial lainnya. Perbedaan pendapat, persoalan lingkungan, maupun ketidaknyamanan antarwarga, menurutnya, tetap dapat diselesaikan melalui komunikasi langsung dan musyawarah.

“Jangan mudah menghakimi. Apalagi jika menyangkut kehormatan dan nama baik seseorang. Kita harus berhati-hati karena sebuah pembicaraan di grup bisa berkembang menjadi opini yang merugikan seseorang,” pungkasnya. (Yz)